Ngaben dalam Kacamata Fotografi

Reporter: Amelia Sarah

Upacara Ngaben adalah upacara yang ditujukan untuk orang yang sudah meninggal. Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon, dianggap sangat penting karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi atau kelahiran kembali. Sebagai sebuah tradisi dan tergolong upacara besar, beberapa orang memilih mengabadikannya dengan fotografi.

Hari baik pengabenan biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender Bali yang ada. Persiapan biasanya dilakukan jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan “bade dan lembu” terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.

Sebelum jenazah diusung dan upacara berlangsung, keluarga jenazah melakukan penghormatan terakhir. Pada tengah hari, jasad dibersihkan dan diletakkan di Bade atau lembu yang disiapkan oleh para warga Banjar, lalu diusung beramai-ramai disertai suara gaduh gamelan dan “kidung” menuju ke tempat upacara. Bade diarak dan berputar-putar dengan maksud agar roh orang yang meninggal menjadi bingung dan tidak dapat kembali ke keluarganya.

Sesampainya di tempat upacara, jasad ditaruh di punggung lembu. Pendeta mengujar mantra – mantra secukupnya kemudian menyalakan api perdana pada jasad. Setelah semuanya menjadi abu, upacara yang dilakukan berikutnya yakni membuang abu tersebut ke sungai atau laut, dikembalikan ke air dan angin. Ini merupakan rangkaian upacara akhir bagi orang yang meninggal, dan keluarga dapat dengan tenang hati menghormati arwah tersebut di pura keluarga. Setelah sekian lama, arwah tersebut diyakini akan kembali lagi ke dunia.

Dalam dunia fotografi, tentunya teknik pengambilan gambar serta fokus foto kita menentukan hasil gambar yang kita buat. Tentunya hasil foto akan tergantung dari shoot-shoot yang akan diambil oleh sang fotografer.

Seperti, Andi Sucirta yang suka mengambil foto dokumenter kultur sosial yang ada di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Andi mengabadikan momen sebagaimana adanya. Hanya memainkan contrast, ataupun black and white. Hasil foto pun nampak jujur sebagaimana adanya.

Lain halnya dengan Wahyu Prayasa.

Wahyu Prayasa yang memang berprofesi sebagai fotografer wedding maupun pre wedding, mengambil foto menggunakan teknik yang berbeda. Sekaligus nampak jelas dari perbandingan foto di atas, bahwa Wahyu lebih banyak menggunakan teknik foto digital dan digital editing.

Di setiap momen yang akan diabadikan, baik upacara adat maupun pernikahan semuanya menggunakan teknik yang berbeda. Biasanya teknik yang berbeda ini tercipta karena fotografernya mempunyai kekhususan dalam mengambil gambar sehingga hasil foto pasti berbeda sekalipun objek yang difoto sama.

Editor: Audithya Djagia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: