Kampung Tugu: Prasasti, Gereja, dan Portugis

Reporter: Amelia Sarah

Daerah Tugu sebagai daerah tua dan keberadaannya telah berlangsung sejak kurang lebih pertengahan abad ke-5. Hal ini didasarkan atas prasasti yang ditemukan di daerah Kampung Batu Tumbuh, Kelurahan Tugu Selatan (sekarang Kelurahan Tugu dimekarkan menjadi Kelurahan Tugu Selatan dan Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara).

PRASASTI

Prasasti itu menyebutkan adanya sebuah kerajaan bernama Tarumanegara yang bercorak Hindu dengan raja yang bernama Purnawarman. Pemekaran terjadi di wilayah kelurahan pada bulan Nopember 1986, daerah Tugu secara administratif mengalami perubahan. Sebelum adanya pemekaran, wilayah Kampung Tugu termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Tugu.

(Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) Andre Juan Michiels mengatakan, sekarang ada 350 keluarga masyarakat Tugu. Dari jumlah itu, masih bertahan enam marga Portugis asli. Keenam marga itu adalah Andries, Abrahams, Cornelis, Browne, dan Quiko. Andre sudah keturunan ke-10 dari komunitas Tugu, tapi wajah Portugis masih jelas terlihat. Warga-warga lain juga memiliki garis wajah yang tidak jauh berbeda dengannya.)

GEREJA TUGU

Bangunan yang lebih dikenal dengan nama Gereja Tugu ini secara darurat telah dibangun sejak tahun 1678. Bangunan ini merupakan pemberian dari seorang dermawan bernama Justinus van der Vinck, tuan tanah di daerah Cilincing. Tahun 1737 pendeta Tydt merehab bangunan gereja darurat tersebut. Pada tahun 1740 bangunan gereja habis terbakar ketika di Batavia terjadi pemberontakan Cina. Tahun 1747 Gereja Tugu dibangun kembali oleh pendeta Mohr dan diresmikan pada tanggal 29 Juli 1774. Atas ijin Gubernur General van lm Hoft yang berkuasa di Batavia, gereja tersebut boleh dibangun di Desa Tugu dan hingga kini masih berdiri kokoh dengan nama “Gereja Tugu Portugis.”

(Inilah foto Gereja Tugu yang telah direnovasi beberapa kali. Foto ini diambil tahun 2010.)

Bagian depan gereja dibuat teras yang saat itu berfungsi untuk duduk-duduk bagi tuan tanah Justinus van der Vinck bila sedang berkunjung ke daerah Tugu. Lokasi Gereja Tugu dengan luas 500 m, kelestariannya dilindungi dengan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta nomor Cb.11/2/8/72 yakni tentang penetapan desa Tugu dengan fokus Gereja Tugu sebagai daerah yang dilindungi Undang-Undang Monumen (Monumen Ordonnahtie Stbl.238 Tahun 1931).

Andre menyebutkan gereja itu tidak hanya dipakai masyarakat Tugu. Kini gereja dengan cat tembok warna putih dan pintu berwarna merah itu memiliki lebih banyak jemaat dari luar Kampung Tugu.

(Sayangnya, hanya tinggal satu rumah keluarga keturunan Portugis yang masih berdiri di Kampung Tugu. Keadaannya pun sudah sangat memprihatinkan. Rumah itu kini dirawat oleh Andre.)

Editor: Audithya Djagia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: